Sabtu, 17 Agustus 2013

Aksara Sunda

Pada artikel ini, saya akan menjelaskan sebuah aksara yang pernah digunakan di tanah sunda dali abad 14 sampai abad 18 ini.

Aksara Sunda, adalah aksara abugida, yaitu aksara yang huruf dasarnya adalah konsonan yang disertai fonem /a/. Untuk merubah suara atau fonem /a/, pada aksara abugida, contohnya Aksara Sunda, menggunakan rarangkén atau diakritik. Berikut Aksara Ngalegena (huruf konsonan)nya.


 Berikut rarangkén yang digunakan untuk mengubah suara aslinya /a/ menjadi bermacam-macam sora (suara). Rarangkén juga dapat disebut pananda sora atau vokalisasi:


  • Rarangkén yang diletakan sebelum ngalegenanya: -é (e pada kata "pendek").
  • Rarangkén yang diletakan setelah ngalegenanya: -o, -y- (penulisan latinnya diletakan antara konsonan dan vokal, seperti wid(y)astuti), -h, dan pamaeh paten (fungsinya sama dengan sukun pada huruf hijaiyyah, sehingga ngalegena itu mati).
  • Rarangkén yang diletakan diatas ngalegenanya: -i, -e (e pada kata "empat'), -eu (eu pada kata "peuyeum").
  • Rarangkén yang diletakan di bawah ngalegenanya: -u,  -r- (penulisan latinnya diletakan antara konsonan dan vokal, seperti p(r)amuka, -l-  (penulisan latinnya diletakan antara konsonan dan vokal, seperti b(l)ewah.
Tetapi untuk menuliskan huruf yang berdiri tanpa konsonan, harus menggunakan Aksara Mandiri, cntohnya [i]ni, [a]dalah, [a]neh, yaitu:




Berikut bilangan yang digunakan pada Aksara Sunda, tetapi dalam penulisannya, sebelum dan sesudah bilangan [wilangan], harus menggunakan dua tanda selang, contohnya |963|


Berikut contoh penulisan aksara sunda pada pembukaan UDHR (Universal Declaration of Human Rights) beserta transliterasinya:
  • Sakumna jalma gubrag ka alam dunya téh sifatna merdika jeung boga martabat katut hak-hak anu sarua. Maranéhna dibéré akal jeung hate nurani, campur-gaul jeung sasamana aya dina sumanget duduluran.


1 komentar: